Showing posts with label Danau. Show all posts
Showing posts with label Danau. Show all posts

11 April 2022

Bendungan Wadaslintang : Pemandangan Indah dengan Sejarah Kelam


Siang yang mendung enggak menyurutkan semangat kita untuk jalan jalan di akhir pekan, seminggu WFH ternyata capek juga, heuheuheu. Kali ini tujuan kita adalah Bendungan Wadaslintang yang merupakan bangunan yang membendung air di Waduk Wadaslintang.

Secara administratif waduknya masuk wilayah Kecamatan Wadaslintang, Wonosobo, sedangkan bangunan fisik bendungan, pintu masuk serta PLTA di bawahnya masuk ke dalam wilayah Kecamatan Padureso, Kebumen.

Akses jalan menuju waduk sudah relatif bagus, aspal mulus namun berkelak kelok, masih aman lah dilewati kendaraan roda dua maupun empat sampai tempat parkirnya. Lokasi persis waduk ini, aku cantumkan dalam peta di bawah ini


Entah karena lagi masa pandemi atau kenapa, pos penjagaan di pintu masuk enggak ada yang jaga, jadinya kita langsung masuk aja, tanpa biaya tiket masuk dan parkir, padahal sebelumnya sempat kubaca ulasan di sebuah blog, untuk masuk arena waduk ada tiket masuknya.

Parkirannya luas banget, dan ada semacam bangunan panggung di tengahnya, sedangkan di sisi sisinya banyak warung yang menjual makanan serta minuman, oia di pojokan juga terdapat musholla. Aku parkirkan kendaraan lalu berjalan menuju arah taman. Di taman ini terdapat tanah lapang berumput, yang saat itu dimanfaatkan oleh beberapa orang untuk bermain layangan. 
 



Spot yang kita tuju adalah sebuah batu hitam besar dalam sebuah pagar, pintunya terbuka, dan kita pun masuk. Bangunan ini adalah Prasasti Waduk Wadaslintang. Dari prasasti ini kita mendapat informasi bahwa Bendungan ini diresmikan oleh Presiden Suharto pada tahun 1988. Kemudian di bagian bawah prasasti terdapat plakat bertuliskan daftar nama korban pembangunan waduk/bendungan wadaslintang. Wuih dari situ aku penasaran lalu googling mengenai sejarah bangunan ini.
 
 
Ternyata pembangunan bendungan ini sudah dimulai pada tahun 1982, oleh kontraktor Hydro Resource Corpotation dari Filipina bekerjasama dengan PT Brantas Abipraya. Adanya korban pembangunan waduk wadaslintang ini memunculkan banyak cerita misteri dibalik itu, terutama mengenai tumbal. Aku enggak mau nulis disini, takutnya salah, kalau kalian penasaran, silakan bisa googling sendiri.

Di area taman ini juga terdapat beberapa gazebo dan permainan seperti ayunan. Awalnya tertarik sih buat nyobain, tapi karena melihat ada beberapa orang yang lagi main main ayunan, jadinya kita urungkan untuk main, niatnya sih menghindari kerumunan, heuheuheu.



Lanjut kita berkendara melewati jalan raya di atas bendungan, jalan raya ini menghubungkan satu sisi bendungan ke sisi bendungan lain, lumayan panjang sih, sekitar 700 meter panjangnya. Nah untuk masuk kesini, pengendara mobil harus melewati portal yang sempit, ukurannya pas untuk selebar mobil avanza/xenia, itupun harus lipat spion. Heuheuheu, kalau naik motor sih aman bisa langsung gas aja.

Dari atas jalan raya ini pemandangannya sangat cantik, disisi kanan kita melihat hamparan waduk dengan beberapa perahu dan keramba keramba ikan. Sedangkan di arah kiri terlihat pemandangan cantik di bawah sana dengan background hijau pegunungan plus bangunan PLTA. Saat di sini dan menghadap kiri, seakan kita sedang berada di tempat yang tinggi banget. Agak serem juga sih, heuheuheu





Di ujung jalan ini ternyata juga ada portal sempit yang sama persis dengan portal yang tadi kita lewati. Kita parkir kendaraan di pinggir jalan sebelum portal sempit tersebut. Di sini kita turun, kemudian explore sekitar sini dan tentu saja foto foto donk ya.

Terlihat Beton yang membendung waduk sangat tinggi, itu artinya debit air sangat sedikit, tidak sampai melewati pembendung, sehingga jalur air yang menuju ke bawah terlihat kering kerontang, malah kayak perosotan raksasa, dengan tulisan Bendungan Wadaslintang di atasnya.





Setelah foto foto di spot paling ujung ini, kita pun putar arah, kembali melewati portal sempit, keluar area bendungan wadaslintang, dan menganbil jalur ke bawah ke arah wisata sendangdalem. Nah untuk cerita tentang wisata sendangdalem, kalian bisa KLIK DISINI

Share:

16 August 2021

Taman Pokdarwis Mukti Marandesa Desa Sempor


Di area Waduk Sempor Kebumen, ada beberapa spot yang ramai dikunjungi wisatawan, salah satunya adalah di ujung timur waduk. Melihat di aplikasi Google Maps, terlihat spot ini bernama Taman Pokdarwis Mukti Marandesa Desa Sempor. 

Akses menuju kesana bisa dilewati kendaraan roda dua maupun empat, namun sekitar 100 meter sebelum lokasi, kondisi jalan sangat sempit, cuma cukup dilewati 1 kendaraan roda 4, untungnya kemarin pas lewat jalan tersebut enggak ketemu kendaraan lain.

Fasilitas parkir sudah disediakan, tidak terlalu luas sih, namun cukup untuk menampung beberapa kendaraan. Di salah satu sudut area parkir terdapat permainan anak seperti layaknya di TK, namun dengan kondisi yang kurang terawat.



Sore itu kondisi air di waduk sempor terlihat agak surut, lumayan jauh dari tepian jalan. Padahal kalau sedang musim penghujan, bibir air danau sangat dekat dengan jalan. Terdapat wahana perahu wisata di sini, jadi pengunjung yang datang bisa berkeliling waduk dengan menaiki perahu tersebut, namun kurang tahu berapa tarifnya. Dengan kondisi air yang surut seperti ini, ada untungnya juga sih, tepian danau yang sedang tidak tersentuh air menjadi padang rumput hijau, kala itu ada beberapa muda mudi yang foto foto di spot ini. Oke juga kayaknya hasilnya.



Di tepian waduk, dibangun berjajar rumah rumahan dari bambu, tempat ini merupakan tempat untuk makan, sedangkan warungnya ada di area parkiran. Jadi kita pesan makanannya ke warungnya, lalu bisa duduk di rumah rumahan ini. Diantara rumah rumahan ini ada spot foto selfie, terbuat dari kayu kayu, dengan jembatan kayu sepanjang 3 meter untuk mengaksesnya. Meski ada kursi bambunya, sepertinya ini tempat buat foto foto aja, bukan buat makan, tapi enggak tahu juga sih, heuheuheu. Tidak ada biaya untuk bisa menikmati fasilitas spot selfie ini, tapi terdapat kotak yang bisa dimasukin uang seikhlasnya.




Awalnya pas ngelihat rumah rumah kayu ini pengen makan dsini, tapi setelah muter muter keliling dahulu, perasaan itu hilang. Jadi kita disini hanya foto foto saja, jalan berkeliling, lalu balik ke parkiran, dan memutuskan untuk pindah spot nongkrong. Masih tetap di area Waduk Sempor sih, cuma bukan disni.

***

Peta Lokasi Taman Pokdarwis Mukti Marandesa




Share:

7 September 2020

View Cantik Bendungan Rotiklot dari Wisata Sabanase


Kondisi jalan dari Wini ke Atambua memang sebagian besar bikin kurang nyaman, aspal sih aspal, tapi semacam lapisan atas aspalnya itu udah lepas semua, meninggalkan jalan kasar yang bikin suara ban tak terbendung berisiknya masuk ke kabin kendaraan. Namun alhamdulilah penderitaan penumpang ini usai setelah melewat pertigaan Pasar Lakafehan, Kab Belu. Dari pertigaan ini kita ambil jalan yang ke kanan, karena kalau ke kiri, jalan akan mengarah ke Atapupu dan PLBN Motaain.
 
Di peta, jalur ini bernama Jalan  Nasional Trans Timor / Jalan Ki Hajar Dewantara, kondisinya mulus namun berkelak kelok dan menanjak terus. Bila dibandingan jalur tadi yang relatif datar tapi grudak gruduk, aku sih mending yang ini dah, naik turun kelak kelok tapi mulus.

Harus ekstra hati hati lewat jalur ini, jangan sampai terlena oleh keindahan pemandangan di kanan kirinya, apalagi kalau pas ketemu truk truk besar yang membawa kontainer, beuhh mantap jiwaa.

Sekitar 2.5 kilometer dari pertigaan pasar tadi, di sebelah kanan terdapat pintu gerbang menuju Bendungan Rotiklot yang telah diresmikan oleh Presiden Jokowi tanggal 20 Mei 2019. FYI, bendungan rotiklot ini adalah salah satu dari tujuh bendungan yang menjadi progamnya pak jokowi, semementara yang sudah jadi di Pulau Timor adalah Bendungan Rotiklot dan Raknamo, sedangkan yang masih dalam pembangunan yaitu Bendungan Temef di Kecamatan Polen, Kab Timor Tengah Selatan dan Bendungan Manikin di Kecamatan Taebenu, Kab Kupang. 

Pintu Masuk Sabanase

Agak galau juga sih awalnya, antara mau mampir atau enggak, tapi ahh sudahlah aku lewatin saja, heuheuheu. Hingga akhirnya 3 km setelah pintu gerbang tadi aku melihat sebuah percabangan jalan ke kanan yang pas kulihat di peta itu adalah jalan masuk ke Wisata Alam Sabanase. Meskipun kendaraan sudah terlewat beberapa meter ke depan, aku pun menghentikan kendaraan dan puter balik, enggak tahu kenapa tiba tiba tertarik aja.

Dari jalan utama tadi, enggak jauh, palingan cuma 100 meter saja dan kita sampai di pintu gerbang Wisata Sabanase. Dari pintu gerbang ini sebenarnya mobil masih bisa masuk melewati jalan tanah yang sedikit menurun, namun aku sengaja parkir kendaraan di depan gerbang biar gak susah baliknya.


 
Untuk bisa menikmati pemandangan dari Wisata Sabanase ini ada tiket masuknya, tapi murah cuma 5 ribu rupiah aja untuk orang dewasa, sedangkan anak anak enggak ditarik uang tiket. Nah dari uang 5 ribu tadi sudah termasuk parkir dan minuman teh atau kopi, mantap.
 
Bangunan utama dari Sabanase ini adalah bangunan dengan tiang kayu, lantai kayu dan atap dari daun kering, sungguh syahdu menyatu dengan alam. Dalam bangunan utama ini terdapat beberapa tempat duduk dan meja, serta penjual makanan ringan dan minuman, di tempat ini pula tempat kita menukarkan tiket masuk dengan teh atau kopi. Nah ujung dari bukit ini terdapat 2 spot foto dengan background bendungan rotiklot yang cantik. 



Menjelang senja, matahari semakin turun di balik bendungan rotiklot yang tentunya kalau foto menjadi backlight, jadi menurutku sih cocoknya pagi ya buat foto foto disni biar dapat background yang lebih jelas dan cantik.
 

Peta Lokasi Wisata Sabanase, Kab Belu, NTT

Share:

16 May 2019

Perjalanan Menegangkan ke Pantai Selatan Pulau Timor

Dua hari sebelum mulai puasa ramadhan 2019 (1440 H) aku ngajakin orang rumah buat jalan jalan , kali ini sengaja aku pilih destinasi yang agak jauh, yaaa itung itung jalan jalan terakhir sebelum sebulan kedepan kita bakal fokus ibadah.


Lokasi yang aku incer adalah sisi selatan Pulau Timor yang langsung menghadap Laut Timor yang tentu saja ombaknya besar. Sebelumnya sih aku udah observasi dan berburu informasi melalui beberapa blog, instagram dan google maps. Info awal yang aku dapat sih, jalan menuju kesana dalam kondisi yang kurang baik, padahal di sisi selatan pulau timor terdapat jalan yang super mulus yang saat ini kondisinya terbengkalai, karena terhenti pembangunannya. Jalan yang mulus ini sebenernya adalah jalur Trans Selatan Pulau Timor yang kalau jadi tersambung semua, seru nih bisa tembus dari Bolok - Tablolong - hingga ke timur sampai ke Pantai Oetune dan Kolbano. 

Tapi sayang sekali info awal yang kudapat ternyata kurang lengkap, haha dan aku terlalu percaya diri untuk menjelajah pantai selatan Pulau Timor menggunakan mobil, heuheu. Sehingga berakhir dengan cerita seru, horror dan menegangkan.

Rute Kota Kupang - Danau Nefokau

.
DANAU NEFOKAU/NEFOKOUK
Kisah seru ini berawal dari tujuan pertama yang mau kita datangin sebelum ke Pantai Selatan, yaitu Danau Nefokau yang terletak di Desa Apren, Amarasi, Kab Kupang sekitar 1 setengah jam dari Kota Kupang melewati Jalan Timor Raya - Pasar Oesao belok kanan menuju Ponain - Tesbatan - Oenoni lalu Apren. Kondisi jalan menuju Apren ini ada yang mulus dan ada yang rusak tapi masih woke lah dilewati kendaraan roda 4. 

Cuaca yang cerah ceria tiba tiba berubah menjadi hujan saat kita hampir tiba di Lapangan Umum Apren yang kalau dilihat di peta, berada lumayan dekat dengan Danau Nefokau. Karena kondisi hujan yang semakin deras, aku menjadi enggak semangat untuk explore Danau ini, apalagi ada bayi, enggak mungkin donk basah basahan. Ya sudah akhirnya kita skip dah tujuan danau ini, padahal tinggal sedikit lagi lho.

Photo by http://www.expontt.com

MENUJU PANTAI RETRAEN
Kuberhentikan kendaraan sebentar, membuka aplikasi google maps di hape untuk minta bantuan dibuatin jalur menuju Pantai Retraen yang dalam rencanaku, pantai itu adalah titik terbarat, yang nantinya kita akan ke arah timur menyusuri jalur selatan Trans Timor.

Oleh google maps dibuatin 2 jalur, yang pertama dapat ditempuh dalam waktu 1 jam 9 menit, sedangkan yang kedua lebih lama yaitu 1 jam 22 menit. Nah tentu saja aku ambil yang lebih pendek donk ya, nah bodohnya aku, aku tuh enggak memperhatikan kalau jalur ini tuh melewati dan membelah hutan. Sesusai keluar dari permukiman penduduk Apren, jalur berubah menjadi tanah berbatu, yang becek dan licin, kanan kiri pepohonan dan ilalang, naik turun, bahkan ada 1 titik yang jalan nya menurun berbatu dan pas menikung, beuuuh ngeri. 

2 Rute Danau Nefokau - Pantai Retraen

.

Di jalur ini cuma beberapa kali melewati rumah, dimana di rumah terakhir yang kita lewati, di situ orang orang yang berada di rumah itu ngelihatin kita donk, haha. Pasti dalam pikiran mereka, ini siapa ya hujan hujan naik mobil menuju hutan. 

Hingga akhirnya kita sampai di sebuah jalan sempit, full tanah, sedikit menanjak, becek dan sekitar 100 meter di depan terlihat mobil pick up bermuatan pisang sedang berusaha keras untuk naik. Mobil tersebut ternyata terjebak di tanah becek, enggak bisa naik karena ban selip enggak mencengkeram tanah. Aku pun menghentikan kendaraan, posisi gigi netral dan aktifkan rem tangan. 

Awalnya sih kita masih tenang tenang aja, tapi lama lama aku berpikir, mobil itu gak bisa lewat, sedangkan kita disini nungguin mobil itu keluar dari jebakan tanah becek, padahal ini jalan enggak terlalu nanjak, enggak tahu khan di depan sana nanti bisa jadi lebih nanjak dan bisa berbahaya. Mau bantu dorong, tapi masih hujan gini, sumpah waktu itu aku bimbang banget, tapi aku tetep menunjukkan ekspresi tenang ke seluruh penumpang, biar mereka gak ikutan bimbang juga. Haha

Aku pun memutuskan untuk keluar dari mobil, jalan ke arah belakang, melihat dan mencari titik untuk putar balik, semoga sih ada ya, dan Alhamdulilah nya ada sedikit tanah terbuka di sisi kanan jalan yang bisa dipakai untuk putar balik.

Melihat kondisi tanah terbuka yang kemungkinan bisa dipakai untuk putar balik, aku pun membulatkan tekat untuk balik arah saja di spot tadi dan mengikuti jalur kedua yang dibuatin google maps.

Kumundurkanlah mobil ini, sekitar 10 meter kebelakang, lalu saat sampai di area tanah terbuka aku arahkan pantat mobil ke kanan memasuki tanah tersebut hingga mentok sebelum menabrak pohon kecil, lalu putaran setir kubales puter kiri penuh, dan maju, eh ternyata enggak cukup luas untuk bisa sekali memutar di sini, dan celakanya kedua ban depan terjebak di sisi kiri jalan , enggak bisa maju karena tertahan tanah yang tinggi dan enggak bisa mundur karena ban selip, beberapa kali kucoba tetap gak  bisa. Aku pun istirahat bentar, enggak kupaksakan gas pol karena bisa merusak ban dan membuat ban makin tipis.

Lalu aku keluar mobil, sejenak melihat mobil yang dalam kondisi melintang jalan terjebak tanah becek, heuheuheu. Pada saati itu pun, masih terlhat mobil pick up di atas sana sedang berjuang juga keluar dari jebakan tanah becek. Aku mengambil beberapa batuan kecil dan meletakkan di belakang ban belakang mobil, tujuannya sih biar ban mendapat traksi, setelah yakin cukup, aku pun balik masuk mobil dalam kondisi basah, sandal kotor penuh lumpur dan tangan pun juga kotor karena tadi ngambilin bebatuan.

Kucoba lagi gas tipis tipis mobil sambil putar putar setir kanan kiri, hingga akhirnya ban depan bisa sedikit naik ke sisi kiri jalan yang memang kondisinya lebih tinggi, ku gas gas lagi dan alhamdulilah ban belakang mendapat traksi penuh, ban depan keduanya bisa naik, kumundurkan lagi, dan akhirnya mobil bisa berputar arah dengan sempurna. Lega banget rasanyaaaa, haha. Kepanikan seketika hilang. 

Beberapa puluh meter mobil berjalan, kita sampai di sebuah pertigaan, kalau ke kiri itu ke arah awal kita datang tadi dan kalau ke kanan entah kemana, awalnya sih mau coba jalur yang kanan, tapi untuknya waktu itu ada seorang bapak bapak yang lewat menggunakan motor ke arah atas, aku pun membuka jendela mobil dan bertanya jalur untuk kembali ke kampung terdekat. Dia pun menyarankan untuk ambil jalur awal tadi yaitu yang kekiri, kalau ke kanan itu jalur ke kebun, sedangkan kalau jalur menanjak yang tadinya mau kita lewati itu adalah jalur ke hutan yang nantinya bakal makin menanjak dan menanjak terus, yang jelas bakal mustahil dilewati mobil dalam kondisi hujan gini, apalagi ini cuma mobil keluarga bukan mobil offroad.

Kita pun mengikuti saran dari bapak tadi untuk kembali ke desa apren melewati jalur yang tadi kita lewati, alhamdulilah dengan niat dan nekat kita bisa melewati tikungan menanjak penuh batu yang tadi kita lewati saat menurun. 

Saat sudah memasuki Desa Apren, kita udah bisa haha hihi lagi, nyanyi nyanyi dalam mobil sambil ngikutin jalur yang dibuatin oleh google maps menuju Pantai Retraen.


Dari Apren ini, kita diarahkan kembali ke Tesbatan - Ponain - lalu ke Kampung KB Desa Nekmese - Pasar Nekmese - Buraen - melewati Satuan Radar 226 Istana Penjaga Langit - lalu masuk ke desa Retraen. Ini adalah desa terakhir sebelum akhirnya petualangan nekat menantang maut dimulai.


Aku sebut jalur ini jalur maut karena setelah keluar dari desa retraen, dan sudah tidak ada rumah lagi, jalurnya menanjak menaiki bukit dalam kondisi jalan tanah putih (alhamdulilahnya cuaca cerah dan tanah kering), jalan ini sepertinya dulu memang jalur mobil karena sebenernya luas tapi menjadi sempit karena dedaunan dan rerumputan dari kanan kiri jalan yang mulai menutup jalan. Istriku sempat menanyakan kepadaku, " Bener nih jalurnya?" Aku sih menjawab yakin "iyaaa"

Setelah sampai titik tertinggi, jalan kembali menurun, kondisinya lebih parah, tanah berbatu yang banyak retakan, aku berusaha keras mengendalikan laju mobil yang sedikit enggak terkendali karena ban enggak mendapat traksi, kalau ku rem penuh, mobil malah bisa meluncur bebas, solusinya adalah rem - lepas - rem lepas , hingga akhirnya kita bertemu seorang ibu ibu tua yang mau meuju ke kebunnya. Aku pun bertanya kepada ibu itu 

Aku : "Maaf bu, mau tanya, ini kalau lurus terus kemana ya"?
Ibu : "Ke Laut"
Aku : "Masih Jauh Bu?"
Ibu : "Eee masih jauh"
Aku : "Tapi bisa kan ya bu dilewati mobil?" (tanyaku penuh harap)
Ibu : "Bisa sih, pernah oto lewat sini" (Oto artinya mobil) , "eh tapi serem, kita naik motor aja takut lewat situ"
Aku : ~Panik~ , tapi gak mungkin puter balik, mobil gak bakalan bisa naik lagi lewat jalur tadi
"Tapi bisa bu ya lewat sini?"
Ibu : "Ya bisa sih, pelan pelan"
Aku : "Ada jalan lain gak bu buat ke pantai?"
Ibu : "ada sih, di timur sana lewat Teres"
Aku : "Oke bu, Terima Kasih"
Ibu : "Iya, hati hati"

Dan aku pun melanjutkan perjalanan dengan penuh rasa khawatir, panik dan takut.

Benar saja donk, jalur ke bawah ini bener bener menyeramkan. Harus bener bener konsentrasi agar ban mobil gak teperosok ke lobang, meleset dikit, selesai sudah... Game Over... Apalagi disini udah gak ada orang lewat lagi. Sepertinya sih orang orang yang dalam mobil ini udah baca puluhan doa, haha, entah doa apa aja. Saking panik dan kacaunya pikiran orang orang di dalam mobil sampe gak terbersit pikiran untuk mem-foto atau memvideokan kejadian seru ini, waduhhh padahal seru pasti nih hasilnya.

Setelah perjuangan berat yang menguras adrenalin, pikiran, jiwa dan hati alhamdulilah kita sampai juga di Jalur Trans Selatan Pulau Timor. Huaaaaaaaaa Pantaaaai.... Pantai Retraen namanya

Sumpah lega banget.....

Aku arahkan kendaraan ke arah kanan, jalanan menanjak tapi super mulus, beneran mulus dan lebar deh jalur trans timor ini, coba aja udah jadi ya, ueeenak pasti, bisa ke pantai ini dengan lancar.

Di ujung tanjakan, aspal habis dan berganti jalan tanah, padahal di balik tanjakan ini ada pantai juga lho, namanya Pantai Batu Tujuh. Ya sudah kita pun puter balik, lalu turun sejenak untuk ambil foto, karena dari tadi kita gak sempet ambil foto.


hasil dari membelah semak belukar
Kita pun meneruskan perjalanan ke arah timur menyusuri jalur mulus ini dengan melewati Tanjung Henu. FYI meskipun jalur ini mulus, tapi bisa dipastikan udah lama gak dilewatin kendaraan nih, alasan pertama di beberapa titik semak belukar menutupi sebagian jalan hingga cuma menyisakan sedikit celah. Alasan kedua, di sepanjang jalan ini banyak terdapat kotoran sapi dan kambing dengan bentuk yang sempurna, saking banyak dan meratanya seorang yang ahli berkendara pun aku yakin gak bakal bisa menghindar untuk tidak menginjak tai tai ini.



Perut yang udah sangat lapar, akhirnya enggak bisa diajak kompromi lagi, aku pun segera mencari spot yang bebas dari pemandangan kotoran kambing dan sapi, biar kita bisa makan siang dengan tenang, yaaa meskipun kita makannya dari dalam mobil tapi kalau sambil melihat ceceran kotoran khan jadi kurang enak makan nya. Untung ya kita udah bawa makanan dari rumah , heuheuheu

Kalau boleh jujur, sebenarnya pikiranku belum tenang tenang banget lho, aku tuh masih kepikiran gimana caranya keluar dari sini, aku takut enggak bisa menemukan jalur balik yang setidaknya lebih manusiawi dari jalur yang tadi. Sambil makan sambil mikir dan searching searching di google maps, dan untungnya lagi tadi pas di rumah tuh udah download peta offline nya, jadi meskipun di sini sinyal ilang ilang, bisa akses google maps dengan lancar.

Dari google maps terlihat jalur trans timor ini di depan terputus putus aspalnya, huaa semoga bisa melewatinya yaaaa. Dan benar aja, ada sungai donk di depan, masih lengkap dengan aliran air. Mobil kuhentikan, dan kuberjalan menuju sungai itu untuk cek kedalaman air, Alhamdulilah enggak dalam air nya. Langsung dah kuterobos.... Setidaknya 2 kali kita menyeberang sungai di jalur ini.


Perjalanan pun kita lanjutkan, masih ke arah timur, hingga akhirnya kita menemukan sebuah pertigaan besar dimana kalau kita belok kiri kita akan keluar dari jalur trans timor dan mengarah ke perbukitan yang masih segaris dengan perbukitan yang kita takhlukkan tadi.

Jalur ini masih berupa tanah yang becek berair dikarenakan hujan yang mengguyur tadi. Aku yakin untuk keluar dari jalur trans timor dan mengambil jalur ini karena ada jejak ban mobil yang masih benar benar baru, wohooo perasaan agak sedikit lega donk. Dan semakin yakin saat bertanya ke salah satu warga setempat yang saat itu gak sengaja kutemui di jalan tanah ini. Beliau mengatakan bahwa jalan inilah jalan yang paling bagus, paling bener untuk dilewati kalau mau kembali ke Kupang. Yuhuuu gass kita.

Baru beberapa ratus meter berjalan, ketemulah kita dengan sungai lagi, sungai yang ini lebih besar dan lebih deras air nya, tapi sekali lagi, alhamdulilah nya dangkal, sehingga kita bisa melewati dengan mudah. beberapa tanjakan pun bisa kita hajar dengan mudah dengan sedikit niat dan kenekatan, haha.

Dan untuk kesekian kali kita bertemu dengan sungai lagi donk, kali ini bedanya, di sungai ini rame ama orang orang yang lagi membersihkan tubuh dan motornya. Kuhentikan mobil, kusapa mereka dan bertanya tanya. Info yang kudapat dari mereka lumayan lengkap nih, pertama, mereka adalah orang kupang yang sengaja naik motor lewat sini untuk ke pantai nya, kedua, mereka berhenti di sini untuk bersih bersih setelah melibas jalanan menurun yang berupa tanah becek, dan salah satu diantara mereka jatuh pas naik motor, sehingga motornya kotor dan dicuci di sungai ini. Ketiga, jalur di depan yang bakal kita lalui adalah jalan yang menanjak terus, berupa tanah dan batu, licin karena hujan dan mereka udah menjadi korban dari licinnya jalan itu. Terakhir, mereka meyakinkan kita bahwa kita pasti bisa melewati jalur ini

Wokee, setelah mengucapkan terima kasih, aku pun langsung tancap gas, menyeberangi sungai dan dengan keyakinan penuh gass poll buat nanjak terus. Alhamdulilahnya jalanan nanjak ini enggak full tanah, masih ada batu batunya, jadi ban mobil masih bisa nge gigit.

Tanjakan demi tanjakan tak kunjung habis, mobil ngepot sana sini, tapi alhamdulilah masih di jalur. Hinga akhirnya ketemu jalan yang datar, disitu ada bapak bapak yang terlihat baru saja menebang pohon, aku hentikan mobil, untuk sedikit bertanya ke bapak itu, sembari istirahat. Dari bapak itu, aku mendapat informasi bahwa jalanan di depan kita ini masih tetap menanjak tapi tinggal sedikit lagi. Beliau bilang ikuti aja jalan ini sampai ketemu tugu, nah disitu jalan sudah mulus aspal hotmix, lalu ambil jalur ke kiri.

Heuheuheu, lega donk kita udah mau sampai ke jalan aspal. Dan benar saja, tanjakan tanjakan terakhir ini enggak kejam seperti tanjakan sebelum nya. Dan jalan aspal super mulus pun terlihat, nah disitu kucari cari mana ya wujud tugunya, yang ada hanya bangunan di kanan kiri jalan semacam gapura tanpa atap gitu. Oh ternyata yang dimaksud tugu oleh bapak itu adalah ini toh. Saat kubuka google maps dan melihat rute menuju ke Kota Kupang sih, kita diarahkan kanan, sedangkan bapak tadi menyarankan kita ke kiri. Yaaa daripada pusing pusing, aku langsung aja ambil jalur yang ke kanan, sesuai arahan google maps, semoga aja sih enggak dijerumuskan lagi seperti tadi pas kita berangkat, haha.

Alhamdulilah jalur yang ditunjukkan google maps kali ini bener, aspal terus, meskipun di beberapa titik masih ada sedikit kerusakan.

Saat sampai di suatu tempat, yang kita enggak tahu nama tempatnya, aku menghentikan kendaraan buat foto foto, haha, mumpung lokasi lagi bagus, pemandangan cantik, perasaan udah lega dan yang pasti tadi kita belum sempet foto foto.



Setelah puas foto foto, kita pun melanjutkan perjalanan menuju Kota Kupang. Kondisi sudah gelap saat sebelum kita sampai di jalur utama Jalan Timor Raya. Dan alhamdulilah bisa sampai rumah dengan sehat walafiat, yaaa cuma mobil aja yang belepotan, haha.




Share:

25 June 2016

Kontroversi Segara Anak Rinjani

GUNUNG RINJANI adalah salah satu gunung tertinggi di Indonesia yang lokasinya ada di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat. Gunung api ini memiliki ciri khas berupa kerucut yang tumbuh di tepian kaldera bagian timur, di dalam kalderanya terdapat danau kaldera berbentuk bulan sabit, dan kerucut baru yang muncul dari dalam danau tersebut. Kalderanya dinamakan Segara Anak, dan kerucut barunya disebut Gunung Barujari. Danau Segara Anak (2008 m) merupakan danau kaldera dengan gunung api aktif yang tertinggi di Indonesia

Rinjani masuk dalam Geopark Nasional, dan sedang diusulkan masuk ke dalam Global Geopark Network (GGN) yang dikelola oleh UNESCO.

Para anggota tim dari UNESCO bernama Maurezio Burlando dari Italia dan Soon Jai Lee dari Korea mengunjungi Lombok pada 17-20 Mei 2016 lalu untuk melaksanakan penilaian. Mereka mengunjungi Senaru, sebuah desa tradisional di Lombok Utara, air terjun Benang Stokel yang terletak di sekitar Aik Berik Desa di Lombok Tengah, dan Pusuk Forest di Sembalun, Lombok Timur. Kini tinggal menunggu hasil keputusan resmi dari UNESCO akan masuk atau tidaknya Geopark Nasional Rinjani ke dalam daftar GGN UNESCO. (info dari rinjanigeopark.com)

Dalam masa penantian ini, ternyata Balai Taman Nasional Gunung Rinjani (BTNGR) punya rencana sendiri dalam menyukseskan masuknya Rinjani ke dalam Global Geopark Network yaitu dengan memasang huruf huruf besar berwarna merah yang lokasinya tidak jauh dari Danau Segara Anak. Foto foto pemasangan "landmark" ini diunggah oleh "Eko Anugraha Priyanto" di akun Facebook nya pada hari Jumat, 24 Juni 2016 yang kemudian langsung viral, menyebar di semua media sosial, seperti Instagram, Twitter dan Path.






Tentu hal ini menimbulkan pro kontra, ada yang mendukung tapi tidak sedikit pula yang dengan keras menentang, sampai sampai salah satu dari mereka membuat petisi dengan title "Selamatkan Gunung Rinjani Kami".  

Nah dari kontroversi ini, aku mau menuliskan beberapa pendapatku, terutama mengenai komentar komentar di berbagai media sosial, terutama facebook.

Alay, merusak pemandangan, merusak keasrian, ide buruk, dan beberapa kata lain mewakili kesedihan, kekecewaan dan kemarahan para pecinta alam dan pendaki gunung. Namun ada satu kata yang terlontar dan itu merupakan ungkapan yang berlebihan, yaitu "TENGGELAMKAN" , heuheuheu , kalau ditenggelamkan di segara anak, justru jadi sampah baru donk......

capture dari facebook
Konsep GEOPARK sih seharusnya tetap mengedepankan konsep ECOTOURISM dalam pengelolaannya ya, termasuk dalam hal pembatasan jumlah dan pengaturan kunjungan pendaki. Penumpukan sampah yang terjadi di pos pendakian, pelawangan maupun Danau Segara Anak adalah bukti bahwa pengelolaan Rinjani tidak "ECO" lagi namun sudah bergerak ke arah "MASS". 

capture dari facebook
Coba deh baca komentar di atas ini yang aku capture dari FB. Salah satu dari mereka bilang bahwa "landmark" baru itu gak ada hubungannya dengan sampah, tidak mengurangi kealamian, membandingkan dengan "landmark" di pantai2 semacam kuta dan trawangan, dan sangat antusias pengen fotoan di sana.

Nah antusiasme berlebihan ini yang sebenarnya aku takutkan dari "landmark" tadi. Orang berbondong bondong ke segara anak hanya untuk selfie di depan "landmark" tersebut, dan dengan bangganya upload di media sosial. Dimungkinkan juga nanti akan ada antrean panjang untuk bisa foto di sini, atau justru nanti akan ada oknum yang menarik retribusi untuk bisa fotoan di sini.

Semakin booming, semakin viral, maka akan semakin banyak orang2 yang berhasrat ke sini, dan sampah di mana mana. Kenapa ada hubungannya dengan sampah? Karena yang mendaki hanya untuk dapat fotoan di sini bisa dipastikan bukanlah pecinta alam, dan mereka gak tahu, gak mau tahu bahkan males untuk bawa kembali sampahnya turun.

Yang terakhir, janganlah disamakan dengan "landmark" yang sudah sudah ada di beberapa pantai di Lombok, disitu memang ditujukan untuk mass tourism... Heuheuheu

Yaa semoga yang punya ide ini bisa berpikir kembali, merenungkan apa yang sudah diperbuat, dan menurunkan kembali tulisan yang sudah terpasang rapi di sana. Eman2 dana nya, dikeluarkan hanya untuk hal seperti ini... Yang diuntungkan sih yang menang tender pengadaan pembuatan tulisan ini, heuheuheu.. Selamat yaaa... Lumayan THR

***

Nah bangaimana pendapat kalian? Coba tulis di kolom komentar ya...
Monggo....
Share:

16 January 2014

Mengenang Jalan Jalan di Danau Bratan Bali

Foto di samping ini diambil di kawasan Danau Bratan, Bali sekitar 10 tahun lalu ketika saya masih di SMA, hohoho sesuatuk ya fotonya, lupa siapa yang fotoin saya waktu itu, kalau saya inget orang itu, saya pengen nanya ke dia, kenapa ambil fotonya kok gak proporsional gitu, saya di posisikan di samping, jadi gak jelas dimana fokusnya, 

Haha, itulah sekilas kenangan study tour waktu SMA dulu bareng temen temen satu sekolahan... Setelah sekian lama, akhirnya saya bisa kembali ke tempat itu dengan suasana dan cara yang berbeda, kali ini saya naek motor ala backpakeran dari Lombok, yeahh

Danau Bratan ini letaknya ada di Kecamatan Baturiti, Kabupaten Tabanan, Bali. Danau ini lebih dikenal dengan nama Danau Bedugul, dan berada di jalur utama Denpasar - Singaraja dengan jarak sekitar 70 km/2,5 jam dari Bandara Internasional Ngurah Rai. Selain itu, letaknya juga dekat dengan Kebun Raya Eka Karya Bali, sehingga saat ke sini wajib mampir ke Kebun Raya nya..

Danau Beratan ini menawarkan pemandangan yang unik dan menarik yaitu terdapat Pura Ulun Danu di tengah yang merupakan tempat pemujaan kepada Sang Hyang Dewi Danu yang di percaya sebagai Dewi Sri atau Dewi Kesuburan. Selain Pura Ulun Danu, pengunjung juga dapat menikmati pemandangan Gunung Karu dan villa terapung. Sebagian wujud pura nya bisa dilihat di foto tadi :)


Untuk mengelilingi danau tersebut, pengunjung harus menyewa boat. Apabila pengunjung tidak mau mengelilingi danau, bisa naek bebek bebek-an di sekitar dermaga nya. Hohoho asal jangan keliling danau naek bebek bebek-an tadi, dijamin capek ngayuhnya :p

bebek bebek-an

Nah lagi asyik asyiknya fotoan di deket bebek bebek-an, eh ternyata baterai kameranya abis gan, alamak langsung galau saya, bukan cuma baterai kamera, baterai hape pun lemah selemah nya, nyala pun enggan... Hufftt jadi males jalan jalan keliling sekitar danau. Saya pun milih nongkrong di salah satu warung disitu, makan mie rebus sambil ngopi. Betewe makan di sini serasa enggak lagi di Bali, tapi lagi di Jawa Timur, lha gimana, yang jualan aja orang jawa timur (kelihatan dari logatnya), dan yang pada mampir kesini juga orang jawa semua, haha

Oia Saya pun jadi gak sempet buat beli oleh oleh di sini, gegara tragedi kamera tadi, jadi males gan... Akhirnya milih cabut, lanjutin perjalanan ke lokasi berikutnya :p

Hoho....
Share:

My Youtube Channel

Blog Archive