Showing posts with label Sungai. Show all posts
Showing posts with label Sungai. Show all posts

25 September 2023

Yang Viral !!! Jembatan Merah Pantai Congot Kulonprogo Jogja

 
Jembatan Merah Pantai Congot, sudah sejak beberapa waktu yang lalu tempat ini viral, aku ikutin terus perkembangan mengenai wisata ini. Awalnya sih enggak boleh masuk karena dijaga satpam, harus kucing kucingan biar bisa masuk. Tapi ternyata sejak minggu lalu sisi yang sebelah barat Sungai Bogowonto sudah dibuka untuk umum (belum resmi), sedangkan yang sisi sebelah timur sama sekali belum dibuka (pertengahan September 2023).

Saat ada waktu lengang, aku langsung meluncur menuju tempat ini, dengan mengajak anak dan istri. Dari Kebumen, kita mengambil jalur JJLS menuju timur ke arah Purworejo sampai di Jembatan Congot. Nah sebelum Jembatan Congot JJLS ini, atau di sebelah baratnya ada jalan ke arah selatan, kita masuk melalui jalan kecil itu yang juga merupakan akses jalan menuju Cafe Bogowonto 77 dan juga Kantor Basarnas Unit Siaga Congot. Di awal jalannya lumayan bagus lah, ada sebagian yang dicor semen, tapi beberapa ratus meter kemudian jalannya jadi tanah yang bergelombang. Kalau mau akses jalan yang lebih bagus, bisa lewat jalan yang menuju Wisata Pasir Kadilangu. Jadi untuk sekarang (Sept 2023) sementara ada dua akses jalan menuju Jembatan Merah. Enggak tahu nanti kedepannya bagaimana, karena ini juga belum dibuka secara resmi sih.





Sampai di lokasi ternyata sudah lumayan ramai, puluhan kendaraan motor dan beberapa mobil sudah terparkir rapi di samping jembatan. Untuk masuk tidak ada tiket masuk, hanya membayar parkir 10rb per mobil atau 3 ribu per motor. Di sekitar parkiran banyak penjual makanan dan minuman seperti goroengan, pop mie, pop ice, jagung rebus dll.

Dari parkiran kita jalan kaki ke jembatan yang posisinya sedikit lebih atas. Akses ke atas masih berupa urukan tanah berbatu, dan sebenarnya jembatan masih tertutup oleh pembatas jalan dengan tulisan "yang tidak berkepentingan dilarang masuk", hal ini menandakan bahwa spot ini sebenernya belum dibuka secara resmi. Dan untuk nama jembatan ini, resminya sebenernya adalah "Jembatan Kali Pasir" , nama tersebut tercantum di salah satu sudut jembatan.



Di area jembatan merah sudah dipadati oleh ibu ibu dengan kostum senam, ternyata mereka mau mengadakan senam bersama di atas jembatan merah ini. Kita pun mengambil tempat di ujung satunya, kita menunggu disini untuk menyaksikan pesawat yang akan mendarat di Bandara YIA. Cakep banget karena pesawatnya bakal lewat persis di atas jembatan merah ini dan terlihat besar karena posisi mau mendarat. Inilah salah satu hal yang membuat spot ini selalu ramai.

Setelah dua kali menyaksikan pesawat lewat di atas jembatan, kita lanjut jalan kaki mengikuti jalan beton tanggul barat sampai ke ujung nya. Spot ini disebut tanggul barat karena berada di sebelah barat sungai bogowonto, sedangkan di sebelah timurnya disebut tanggul timur, jadi tanggul ini mengapit sungai bogowonto di muaranya.




Saat berjalan menuju ujung tanggul pun kita sempat satu kali menyaksikan pesawat mendarat. Semakin sore suasana semakin ramai oleh pengunjung dari berbagai usia, dari anak anak sampai manula pun ikut menikmati pesona tanggul pemecah ombak ini.

Beberapa puluh meter sebelum ujung tanggul, di kanan kirinya terdapat susunan tetrapod yang berfungsi untuk memecah ombak agar tidak langsung menghantam tanggul. Kemarin tetrapodnya masih terlihat putih bersih, tidak seperti yang di pantai glagah yang sudah banyak berwarna coklat, heuheuheu.



Tumpukan tetrapod ini banyak digunakan oleh pengunjung untuk spot foto, cakep banget deh, apalagi dengan background sunset di arah barat. Di sisi timur tanggul barat terlihat barisan joran pancing, ternyata banyak juga pemancing  yang beraksi di muara ini. Semoga di sepanjang tanggul ini nantinya tidak ada warung warung ya seperti di pantai glagah, jadi kurang oke buat foto foto. Warungnya cukup dipusatkan saja di sekitar tempat parkir.

Sampai di ujung kita bisa menikmati ganasnya ombak pantai selatan yang menghempas tetrapod, kadang percikan ombaknya sampai juga ke area pengunjung, jadi harus tetep hati hati.




Share:

19 June 2023

Seru Seruan Bareng Rahayu River Tubing Kebumen

Penat dengan kerjaan, grup WA touring pun rame menjelang weekend. Kali ini tujuan touring kita deket deket aja, masih di sekitar Kebumen, enggak sampai keluar kota, tapi kayaknya bakal seru sih kali ini, karena kegiatan utamanya adalah River Tubing di sungai aliran dari Waduk Wadaslintang.


Seperti biasa udah ada panitia yang ngurusin jalur touring, dan booking operator river tubing, jadi aku tinggal siapin perlengkapan pribadi aja. Infonya sih kita ambil yang paket 100 ribuan per orang, nanti dapat snack dan makan siang.

Yang dari Kebumen, kita berangkat sekitar jam tujuh pagi, sedangkan yang dari Purworejo mereka juga berangkat sekitar jam segituan, nanti 2 team ini langsung bertemu di lokasi karena memang spotnya ini bisa dibilang di tengah tengah antara Kebumen dan Purworejo.



Oia disini ada dua operator yaitu Rahayu dan Sendang Dalem, nah setelah survey survey kita pilih yang Rahayu saja. Akses jalan menuju ke basecamp Rahayu River Tubing lumayan ekstrim mulai dari jembatan sendangdalem, jalannya sempit naik turun dan berkelok, untungnya sih sudah beton cor ya. Alhamdulilah kita sampai ke basecamp sesuai dengan jadwal yang kita rencanakan.

Di basecamp kita langsung siap siap, pake pelampung, helm dan sepatu khusus. Setelah itu lanjut briefing sebentar dan  cuss ke titik start. Jadi ternyata titik startnya tuh enggak dari basecamp ini, melainkan ini adalah titik finishnya nanti. Nah untuk menuju ke titik start kita naik pick up dulu dengan melewati jalur beton yang kita lewati tadi pas berangkat sampai jembatan sendangdalem, heuheuheu.



River tubing yang disini lumayan unik, jadi ban nya tuh digabung dengan tali jadi 1. Isinya ada 4 ban, yang ditempati 3 peserta dan 1 guide yang akan mengarahkan arah pergerakan ban kita biar sesuai jalur dan enggak menabrak2 batu batu besar di sungai. Sisi positifnya, peserta akan lebih aman dan mencegah peserta terpisah2, tapi sisi negatifnya, arah pandangan peserta tidak selalu ke depan, arahnya bisa kemana aja.


di Awal awal, kondisi sungai masih aman, tidak banyak jeram, cuman memang arusnya lumayan kenceng ya, seru banget dah, semua peserta teriak teriak dengan sebebasnya. Alhamdulilah hari ini cuaca cerah, dan air sungainya juga jernih banget, pemandangan di kanan kiri pun sangat indah, lagi ijo ijo nya.

Tidak berapa lama mengarungi sungai dengan penuh keseruan, kita berhenti di sebuah spot yang teduh, satu persatu dipersilakan naik dulu untuk menikmati teh hangat dan gorengan. Huhuhu mantap. Selain itu di spot ini juga ada tempat untuk lompat lompat dari batu, meskipun tidak tinggi. 




Sekitar setengah jam disini, kita pun lanjut lagi bertualang menyusuri sungai, kali ini ada beberapa spot dengan jeram yang lumayan ekstrem, tapi alhamdulilah kita semua bisa melewati tanpa terbalik bannya. Hingga akhirnya kita sampai di spot pemberhentian kedua yaitu spot lompat dari batu yang lumayan tinggi, kira kira 3 meter lebih. Tentu saja aku juga coba donk ya




Puas lompat lompat dari batuan tinggi. Kita lanjut lagi menuju titik finish. Kali ini aliran sungainya relatif lebih tenang, jadi kita bisa bersantai santai di atas ban sambil menikmati pemandangan indah di sepanjang jalur. 

Saat sebuah jembatan gantung terlihat, berarti itu tanda bahwa petualangan kita akan usai, karena jembatan gantung itu lokasinya persis di sebelah basecamp Rahayu River Tubing. 

Untuk tempat bilas dan ganti pakaian sudah tersedia lumayan banyak, ada 10 lebih, jadi tidak perlu antre antre. Mantap.



***

Peta Lokasi Rahayu River Tubing Kebumen

Share:

29 May 2023

Ciblon di Taman Sidandang Purworejo | Seru Banget.....


Sore itu sebenernya kita enggak ada rencana sama sekali untuk jalan jalan ke Taman Sidandang. Awalnya kita cuma keluar untuk makan Bakso Campursari di dekat Taman Brengkelan Purworejo. Nah pas perjalanan pulang, aku tanya nih "Ini mau langsung pulang atau lanjut kemana?" Mereka pun kompak menjawab bahwa pengen muter muter atau jalan jalan dulu. Tapi pas kutanya mau jalan jalan kemana, mereka enggak bisa menjawab, alias "terserah" drivernya, heuheuheu.

Nah saat itu tiba tiba terlintas di pikiran tentang "Taman Sidandang" ini. Aku langsung saja arahkan kendaraan menuju kesana, kebetulan lokasinya tidak terlalu jauh dari pusat kota, kita kira cuma 13 kilometer, dan bila ditempuh dengan kendaraan pribadi, hanya 30 menit saja, dengan kondisi jalan aspal halus namun setelah melewati daerah Brenggong, jalan menjadi lebih sempit, berkelok dan sedikit menanjak. Tapi tenang saja, masih aman kok dilewati mobil maupun motor.


Tempat parkirnya sekarang sudah lebih memadai, bisa menampung beberapa kendaraan roda 4, dulu saat pertama kali kesana, hanya bisa motor saja. Di sekitar parkir terdapat beberapa warung yang menjual makanan minuman, ada tempat bilas dan loket pembelian tiket. Untuk harga tiketnya per orang cuma 5 ribu rupiah saja, untuk parkir, tarifnya 2 ribu per motor dan 5 ribu per mobil.


Dari loket, kita akan melewati jalan setapak, dengan melewati beberapa bangunan penginapan/villa, musholla, gazebo di bawah rimbunnya pepohonan. Jalan ini lumayan licin saat basah, jadi harus hati hati. Gak sampai 5 menit jalan kaki, kita pun sampai juga di sungainya. Spot ini bernama area ciblon anak anak.

Alhamdulilah sore ini sungainya kecil, tenang dan jernih, bahkan kita bisa melihat ikan ikan kecil berenang renang di sungainya.


Anak anak pun dengan girang langsung nyemplung, main air, pasir, basah basahan, saat itu enggak mikirin sih nanti gimana pas pulangnya, heuheuheu. Untung saja aku pake celana dobel, jadi sebelum nyebur aku lepas celana panjang, dan memakai celana kolor saja untuk basah basahan.

Selain kita, ada juga beberapa keluarga lain yang sedang main air disini, semuanya membawa anak anak, karena memang anak anak suka banget main air di sungai seperti ini. Arusnya tenang, jernih, dangkal dan bersih. Wah kalau bawa seser/serokan ikan bisa nih main air sambil serok serok ikan.



Aku coba untuk jalan kaki sedikit ke arah atas dengan melewati batu batu yang lumayan licin, tidak dalam sih, cuman harus ekstra hati hati terpeleset, apalagi ini sambil bawa dua bocil, sedangkan emak dan tantenya hanya duduk duduk di tepian sambil foto foto, mereka enggak basah basahan karena enggak membawa baju ganti.

Di atas terdapat air terjun yang tidak tinggi, kita enggak sampai sana karena harus memanjat bebatuan yang cukup besar, kalau enggak bawa anak anak sih aku mungkin bakal coba naik, tapi karena takut meninggalkan mereka dan takut juga bawa mereka kesana, jadinya aku cuma foto foto aja dari  kejauhan.



Sebenernya kita bisa eksplore lebih jauh lagi ke arah bawah  dengan mengikuti jalur setapak yang sudah ada, namun karena ini sudah lumayan sore, akhirnya setelah puas main main air, aku pun mengajak anak anak untuk pulang, apalagi telapak tangan mereka udah keriput kedinginan.

Karena baju mereka basah, akhirnya pas perjalanan pulang mereka duduk di mobil di bagian belakang, dengan melipat kursi baris ketiga, kasihan juga sih tapi untungnya mereka happy happy aja, heuheuheuheu. Sedangkan aku berganti pakaian dan celana karena memang celana udah dobel dan ada kaos cadangan di dalam mobil.


***

Peta Lokasi Taman Sidandang Purworejo

Share:

20 February 2023

Motoran ke Bendungan Pejengkolan Kebumen


Siang itu, hari Sabtu sepulang anak sekolah, aku ngajakin mereka berdua buat motoran jalan jalan di sekitar Kebumen, aku sengaja naik motor saja bertiga, karena emaknya lagi gak enak badan, istirahat di rumah. 

Lokasi yang akan kita tuju adalah Bendungan Pejengkolan dan Wisata Jembangan, kedua tempat itu berdekatan dan masih dalam 1 aliran sungai yang bersumber dari Waduk Wadaslintan, jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah, sekitar 15 kilometer dengan kondisi jalan yang sudah aspal namun bolong bolong di banyak titik, jadi harus ekstra hati hati, apalagi jalannya masih basah karena semalam hujan dan dari tadi pagi mendung terus.
 

Sekita pukul 11.20 WIB kita pun sampai di area Bendungan Pejengkolan. Terlihat ada beberapa warung makan yang terlihat ramai karena ini mendekati jam jam makan siang. Di sebelah warung itu ada tanah kosong, disitu aku berhenti bentar untuk foto foto dan menikmati pemandangan sekitar. Dari spot ini kita bisa melihat bendungan pejengkolan dengan lima lereng air di bagian tengah, dua lorong air di kiri kanannya serta dua saluran induk irigasi. Di atas bendung itu melintang sebuah badan jalan aspal yang bisa dilewati oleh kendaraan roda dua dan roda empat kecil.


FYI Bendung Pejengkolan ini mulai dibangun pada tahun 1981 dan selesai tahun 1984, menggunakan jenis beton graviti sehingga disebut bendung graviti atau bendungan gravitasi. Bendung gravitasi merupakan bendung yang dibuat dari bahan beton atau batu bata, yang dirancang untuk menahan air dengan hanya memanfaatkan berat bahan untuk menahan tekanan horizontal air. Bendungan gravitasi dirancang sedemikian rupa agar setiap bagian bendungan stabil, secara praktis terlepas dari bagian bendungan lainnya. Tinggi Bendung Pejengkolan dari dasar sungai adalah 22,25 m, tinggi di atas galian 27,5 m, panjang puncak 180 m dan lebar puncak 5 m. Pembangunan Jembatan Pejengkolan ini dikerjakan oleh PT Adhi Karya, dengan konsultan PRC-ECI (USA).
 

Lokasi Bendung Pejengkolan berada sekitar 7 km di bawah Waduk Wadaslintang yang bertugas untuk membendung limpahan air dari waduk yang mengalir ke Sungai Bedegolan. Limpahan air dari Bendung Pejengkolan kemudian dibendung lagi oleh Bendung Bedegolan untuk memasok air area persawahan penduduk melalui Saluran Induk Bedegolan.
 
Setelah foto foto bentar, kita lanjut ke atas, menuju jalan yang berada di atas bangunan bendungan. Jalan ini sebenarnya cukup lebar untuk dilewati mobil, tapi di salah satu sisi terdapat tiang besi di jalan sehingga hanya mobil kecil saja yang bisa lewat jalan ini. Di atas sini ternyata sudah ada beberapa muda mudi yang nongkrong, ada yang ngobrol ngobrol, ada pula yang foto foto.


Di bagian ujung yang satunya terdapat bangunan PLTA. Sebagai pembangkit tenaga listrik, Bendung Pejengkolan dapat membangkitkan tenaga listrik lebih dari 92.000.000 KWH/tahunnya, atau kapasitas terpasang sebesar 2 x 8 MW, yang dimulai sejak 1998. Selain itu bendung ini juga digunakan untuk perikanan darat bebas atau dengan keramba, serta untuk memenuhi kebutuhan air baku dan air untuk industri. Selain sebagai unit pembangkit listrik tenaga air atau PLTA, Bendung Pejengkolan juga difungsikan untuk memasok kebutuhan air irigasi ke Saluran Induk Wadas Lintang Timur yang mampu menghidupi sawah di Kecamatan Prembun, Pituruh, Kemiri, Kutoarjo, dan Ketawang, sebelum aliran airnya berakhir di laut selatan. 
 

 
Dari jalan aspal ini aku ikutin terus hingga akhirnya aku sampai di sebuah spot bernama Pucang Anom, tempat ini sedikit berada di ketinggian, dikeliling oleh panorama yang begitu menawan. Pepohonan hijau tinggi menjulang membuat tempat ini terlihat sejuk dan nyaman. Angin sepoi berhembus melengkapi keindahan pemandangan bendungan dari sini. 

Pucang Anom biasanya selalu ramai dikunjungi setiap sore hari. Tapi berhubung ini akhir pekan, siang siang gini ternyata udah lumayan rame, semuanya anak anak muda sih, aku jadi ngerasa paling tua nih, apalagi bawa dua anak pula, heuheuheu.
 

Bagi yang suka berburu sunset, wajib datang kesini untuk menikmati sunset, yaaa kira kira pukul 17.30 WIB lah, kalau pas lagi cerah ya. Saat menikmati sunset kita juga bisa sambil menikmati secangkir kopi dan sepiring mendoan hangat di warung makannya. Tersedia juga minuman lain dan jajanan khas daerah Pejengkolan yang bisa kalian jumpai di Pucang Anom . 
 
Infonya tempat ini juga sering digunakan untuk tempat foto keluarga, foto pasca wisuda hingga foto prawedding. Sambil duduk kita sudah bisa memandang seluruh area Bendungan Pejengkolan dari atas. Sungguh pemandangan yang takbisa terlewatkan untuk dinikmati. Untuk masuk di lokasi Bendungan Pejengkolan dan Pucang Anom sih kemaren tidak ada loket masuknya ya jadi gratis, parkir pun tidak bayar.


***

Peta Lokasi Bendungan Pejengkolan Kebumen

Share:

16 January 2023

Taman Badegolan Kebumen - Dulu Viral, Sekarang Tutup

 
Beruntung banget, aku bisa mengunjungi tempat ini kira kira seminggu sebelum ditutup untuk umum. FYI Taman Badegolan ini sebenernya adalah sebidang tanah kosong yang berada persis di sebelah sungai tempat keluarnya air dari PLTA Wadaslintang. Secara geografis, tempat ini masuk ke dalam wilayah Desa Sendangdalem, Kecamatan Padureso, Kabupaten Kebumen sedangkan untuk waduknya sendiri masuk wilayah Kecamatan Wadaslintang, Kabupaten Wonosobo.

Untuk bisa masuk kesini, pengunjung harus masuk melalui Jalan PLTA dengan pintu gerbang warna hitam seperti bangunan di Pulau Bali dan ada logo PLN nya, lokasinya dekat dengan Balai Desa Sendangdalem. 


Akses jalan sepanjang 700  meter ini sudah bagus, beraspal dengan pemandangan indah di kanan kirinya. Sampai di ujung, terlihat suasana sangat ramai, banyak penjual makanan dan minuman dadakan, dan banyak banget motor terparkir di kanan kiri jalan. Memang tidak ada lahan parkir khusus untuk pengunjung, cuma memanfaatkan area kosong di tepian jalan. Untuk parkir, pengunjung membayar 5 ribu per motor dan 10 ribu per mobil.


Dari spot ini jalan utama ditutup portal, karena termasuk area terbatas (PLTA), nah untuk menuju Taman Badegolan ada jalan kecil di arah kiri sebelum portal yang menuju ke bawah, ke arah sungai. Ada semacam gapura sederhana, jalannya berupa jalan setapak menurun, sebagian tanah sebagian paving, alhamdulilah siang ini cerah, mungkin kalau pas hujan jalan kecil ini bakal licin, kemudian akan ketemu pertigaan, kalau ke kiri menuju toilet sedangkan ke kanan menuju spot utama Taman Badegolan.


Dari pertigaan ini kita sudah bisa melihat bagaimana ramenya taman ini, banyak banget pengunjung yang duduk duduk di tepian sungai. Menurutku ini memang berbahaya sih, tidak ada pagar yang proper disini, cuma ada pagar dari tali yang direntangkan dan sebagian lagi berupa pagar bambu. Padahal kalau kita lihat aliran sungainya, deras banget lho. Mirip ama sungai Aare di Swiss, baik itu derasnya maupun warna airnya.



Meskipun siang terik, di sekitar taman ini terasa adem karena banyak pohon dengan daun yang rindang. Tidak hanya anak anak muda pemburu spot selfie, disini juga ada beberapa keluarga yang piknik, duduk duduk sambil makan bekal yang dibawa.

Cukup sulit juga untuk foto foto disini dengan view yang lega, karena pasti bakal ada pengunjung lain yang bakal masuk frame. Mungkin harus pagi banget ya biar terlihat kosong. 

Spot utama yang dituju adalah yang paling ujung yaitu berupa semburan air yang sangat kencang yang berasal dari PLTA. Semburan itu sampai ke ujung/seberang sungai, bahkan percikan airnya terlihat ke arah atas, dan di jam jam tertentu akan terbentuk pelangi




Aku datang kesini tuh tanggal 19 Desember 2022. Nah di akhir Desember 2022 ada kabar bahwa Taman Badegolan ini ditutup untuk umum. Wohohoho, seperti yang udah kuduga, spot ini memang bukan tempat wisata sih, terutama faktor keamanannya.

Secara resminya, alasan ditutupnya Taman Badegolan adalah adanya surat edaran PT PLN Indonesia Power karena dengan mempertimbangkan
1. Sistem Managemen Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMK3)
2. Sistem Manajemen Pengamanan (SMP)
3. SK Direksi 072.K/010/IP/2020 tentang Pendayagunaan Aset Properti 


Kemudian di pertengahan Januari 2023, aku dapat kabar juga bahwa untuk area wisatanya dipindahkan ke arah bawah, tidak jauh dari Taman Badegolan, tepatnya di sebelah Jembatan Sendangdalem, di bawah Gunung Rayang. Spot baru ini dinamakan Taman Pengilon.

Tidak kalah cantik dengan Taman Badegolan, Taman Pengilon ini menawarkan pemandangan sungai yang sama, ditambah view jembatan dan gunung rayang yang menjulang. Aku dulu pernah fotoan di seberang Taman Pengilon ini, seperti ini fotonya :


Sebagai gambaran, berikut aku sertakan peta lokasi Waduk Wadaslintang, Taman Badegolan dan Taman Pengilon. Aku tandain dengan nomor ya :
  1. Nomor 1 adalah Waduk dan Bendungan Wadaslintang
  2. Nomor 2 adalah Taman Badegolan
  3. Nomor 3 adalah Taman Pengilon


 


Share:

My Youtube Channel

Blog Archive