10 December 2014

Ngadem di Taman Mayura Mataram

Sejarah Taman Mayura
Dalam bahasa Sansekerta, Mayura berarti burung Merak. Taman yang dibangun oleh Anak Agung Ngurah Karangasem pada 1744 ini pada awalnya bernama Taman Kalepug yang berati suara jatuhnya air di telaga. Nah, mengapa berganti menjadi Mayura karena pada kala itu banyak ular di kawasan taman ini. Untuk mengusir ular, didatangkanlah burung Merak dari Palembang untuk memangsanya. Sejak itulah Taman Kalepug berganti nama menjadi Mayura. Kini yang tersisa hanyalah relief-relief burung Merak yang semakin menyakinkan bahwa legenda tentang ular dan burung Merak memang ada.

Taman Mayura merupaka saksi keberadaan kerajaan Singasari dan orang-orang Bali di Lombok pada abad ke-19. Uniknya di taman ini Anda akan menemui betapa sejak dahulu kala semangat perbedaan sudah ada dipelihara oleh raja-raja Singasari dan Mataram. Bale Kambang atau bangunan terapung di tengah kolam Taman Mayura menceritakan hal itu. Dalam Bale Kambang kita akan menjumpai patung-patung yang bercirikan Muslim, Cina, dan Jawa. Patung yang mencirikan Muslim berada di bagian Barat, timur dan utara Bale Kambang bersebelahan dengan bangunan linggih yang kental corak Hindu Balinya. Pada saat itu, Bale Kambang dipakai untuk mengadili suatu perkara pada jaman penjajajahan Belanda.
Bale Kambang

Nah begitulah sekelumit cerita mengenai sejarah Taman Mayura yang baru aja kemaren saya datangi, padahal saya udah lama tinggal di Mataram dan lokasinya pun gak jauh, ada di arah timur Mataram Mall, sekitar 1 Kilometer, kiri jalan. 

Pagi itu (22 Nop 2014), saya dan istri memang lagi pengen jalan jalan, mumpung lagi libur sekaligus ngilangin suntuk, tapi ya gimana lagi, kondisi istri yang lagi gak memungkinkan buat jalan jalan jauh membuat kita pun akhirnya terdampar di Taman Mayura ini.

Untuk masuk, kita harus membayar tiket masuk sebesar lima ribu rupiah per orang, sedangkan untuk parkir motornya gratis :)

Gak banyak sih yang bisa dilakukan di dalem sini, kita berdua cuma duduk duduk aja ngadem, di bawah rimbunnya pohon mangga dan manggis yang lagi berbuah.


Oia ada satu hal yang gak disangka sangka, ternyata kolam luas di dalam taman mayura ini dijadikan sebagai tempat untuk mancing massal, hihihihi, pagi ini banyak banget bapak bapak yang lagi mancing disini, wah tahu gitu tadi saya bawa joran pancing nih di sini. Selain tempat buat mancing, di dalam arean taman mayura ini juga sering buat acara konser dan nikahan lho. Selain itu ada juga wahana bebek bebekan yang bisa digunakan buat mengarungi kolam taman ini, tapi ya gimana ya, banyak yang lagi mancing, hihihi entar bebeknya kepancing lagi, khan repot.


Dibagian belakang komplek Taman Mayura, terdapat Pura Jagatnatha Mayura, pengen sih masuk, sekedar lihat lihat, tapi pintunya tertutup, dan akhirnya kita cuma foto foto di depannya aja.

Di sekitar pura terdapat pohon beringin. Menurut kepercayaan sih pohon beringin bukan hanya mengandung unsur mistis namun juga merupakan pertanda suatu tempat akan makmur, jaya, serta selalu aman sentosa. Filosofi ini persis seperti di Alun-alun Kidul Jogjakarta yang memiliki dua pohon beringin besar dengan sumber kemakmuran bagi masyarakat yang memercayai.

jangan lupa follow twitter kita @lombokkita untuk all about Lombok
LOMBOK itu INDAH
Share:

7 December 2014

Serunya Perang Topat 2014


Weekend di awal Desember 2014 dimeriahkan oleh event besar yang digelar pemerintah Kabupaten Lombok Barat, yaitu Perang Topat. Event ini ada setiap tahun di Bulan Desember. Karena diadain pas Bulan Desember jadinya setiap event ini pasti diiringi oleh gerimis hujan yang awet sejak mulai sampai selesai. 

Awalnya saya janjian dengan tiga orang temen, tapi ternyata dua diantara mereka kibarkan bendera putih gegara hujan, alias takut hujan, yasudah akhirnya saya pergi berdua dengan Yadi, temen baru saya yang sebentar lagi menikah.

Ini adalah kali kedua saya ikut event ini, pertama ikut dulu pas tahun 2011, udah saya posting juga sih di blog ini, silakan dicari ya.

Seperti biasa, event ini digelar di komplek taman lingsar, lombok barat yang lokasinya gak terlalu jauh dari Kota Mataram, ya kira kira 30 menit lah naik kendaraan bermotor.


Sekitar jam 4 sore, kita sudah sampai di lokasi. Komplek Taman Lingsar yang biasanya sepi, sore ini berubah menjadi seperti pasar, selain dipenuhi pengunjung, juga dipenuhi oleh para pedagang, mulai dari berbagai jenis makanan (lemang, jagung bakar, soto, bakso), baju, bahkan CD/DVD bajakan, lengkap dah pokoknya.

Di sekitar panggung sudah siap para penabuh gendang beleq yang rencananya mau tampil untuk menyambut kedatangan Bupati Lombok Barat dan jajarannya, dan jalan menuju panggung dijaga ketat oleh para petugas Satpol PP Lobar yang unyu unyu, hihihi


Selain warga lokal, banyak juga ternyata bule yang datang, ada yang sendiri, ada yang ama pasangannya, ada yang ama keluarganya. Di sini bule diistimewakan oleh para polisi, jadi kalau ada bule yang mau ke barisan kerumunan paling depan, si pak polisi bantu buka jalur agar si doi bisa berdiri paling depan, hohoho enak ya, sayang sekali muka saya Indonesia banget jadinya gak mungkin nyamar jadi bule, pasti ketahuan lah. Dan setelah sekian lama menunggu, akhirnya tamu agung yang ditunggu tunggu pun tiba, Selamat Datang Bapak Bupati... *salim


Kemudian dilanjutkan dengan iring iringan para bapak bapak berpakaian prajurit Belanda warna Hijau lengkap dengan senapannya, Ibu Ibu yang membawa berbagai macam hasil bumi dan ketupat (topat) yang nantinya akan dijadikan amunisi perang, dan tarian tawaq-tawaq. Iring iringan ini menuju bagian dalam pura dimana kita kita gak boleh masuk, jadinya kita gak tahu ada apa dan sedang terjadi apa disana. Selama menunggu itu, di panggung digelar pertunjukan Peresean dan Tari Mandalika.






Acara puncak yang ditunggu tunggu pun akhirnya tiba, yaitu prosesi perang topat, yang diawali dengan pelemparan topat pertama oleh bupati Lombok Barat dan tamu undangan lain. Dengan pelemparan pertama ini, secara resmi perang topat pun dimulai. Penonton yang awalnya berdiri di bagian depan langsung berlarian mundur, takut kena lemparan ketupat. Menyisakan para pemuda yang asyik saling lempar ketupat. 

Pelemparan Topat Pertama

Tapi lempar melempar ini gak asal lempar ya, melainkan dibagi menjadi dua kubu, yaitu atas dan bawah, kubu atas ada di sisi utara sedangkan kubu bawah ada di sisi selatan. Kedua kubu saling lempar menggunakan topat (ketupat) kecil yang telah disediakan. 

Awas... harus hati hati ya, kecil kecil gini topat ini menyakitkan lho, apalagi kalau sampai kena muka. Yang harus lebih diwaspadai yaitu adanya peserta yang sengaja bikin rusuh, yaitu dengan melempar selain topat, seperti bonggol jagung bakar, botol minuman, bahkan sampai telur busuk, haha alhamdulilah gak kena semuanya, tapi salah satu temen saya yang dari komunitas Lombok Backpacker ternyata ada yang kena telur busuk, hahaha baunya itu lho, hiiiiii.. *disgusting

yang di rumput2 itu adalah Kubu Bawah

in adalah Kubu Atas

Acara perang perangan ini ternyata sebentar banget, gak sampae 15 menit, panitia sudah meniup panjang peluit, yang artinya perang harus dihentikan, tapi ya yang namanya lagi seru seruan, tetep aja ada yang bandel gak mau berhenti, sampai sampai para polisi harus ikut turun tangan buat memberhentikan.

Oia perlu saya ingatkan ya, ini perang bukan perang beneran ya, ini cuma perang perangan, perang dengan penuh tawa gembira suka cita dengan tujuan untuk meningkatkan toleransi antar umat beragama :) Setelah selesai perang, ketupat ketupat kecil ini gak dimakan lho, karena kepercayaan mereka bisa menyuburkan lahan/kebun/sawah jadi dibawa pulang untuk nantinya ditebar di kebun/sawah/lahan mereka.




jangan lupa follow twitter kita @lombokkita untuk all about Lombok
LOMBOK itu INDAH


- Baca Juga :>> Perang Topat 2011
Share:

4 December 2014

Mlipir Fotoan di Taman Kenikir Monjok

Hari sabtu pagi pagi udah mendung aja nih, bisa jadi ini pertanda Mataram udah memasuki musim Penghujan 2014 nih. Sehabis sarapan Soto Yugisah, saya dan istri pun lanjut pulang kerumah, maksudnya biar gak kehujanan sih, lha langit udah mendung gini. Tapi eh tapi pas lewat di Jalan Terusan Bung Hatta Mataram yang tembus ke Gegutu, kita berdua ngelihat ada taman bunga kenikir warna kuning yang warnanya sangat mencolok diantara persawahan padi yang berwarna hijau. Dan tujuan kita pun berubah 369 derajat, lupa dengan langit mendung.

Motor saya hentikan dan parkir cantik di pinggir jalan di bawah pohon mungil. Pas sampai sini ternyata udah ada dua gadis Mataram (kayaknya sih masih gadis) yang udah asyik fotoan. Tengak tengok kanan kiri saya nyari pemilik atau penjaga taman ini, niatnya sih mau minta ijin buat fotoan, eh ternyata gak ada, yasudahlah, kita langsung masuk aja.

Oia sebenernya saya sebulan lalu sudah tahu mengenai spot ini lewat postingan temen di Instagram, tapi ya itu belum tahu lokasi persisnya dimana, cuman dapet clue kalau lokasinya ada di deket Jalan Baru Monjok terusan Bung Hatta.

Disini setidaknya ada tiga jenis bunga yang ditanam di bekas areal sawah padi, salah satu yang warnanya paling mencolok adalah Bunga Kenikir., yang lainnya gak tahu namanya :) dan memang yang paling sering dipakai buat fotoan ya taman bunga kenikir itu.

Meskipun tadi pagi awalnya cuma pergi sarapan doang, hohoho tapi kamera gak pernah lupa dibawa donk, karena sebuah momen itu memang datangnya suka gak diduga, ya seperti sekarang ini, nemu spot di sawah sawah pinggir jalan.

dan Foto foto dimulai............ 






jangan lupa follow twitter kita @lombokkita untuk all about Lombok
LOMBOK itu INDAH
Share:

1 December 2014

Renang Renang Iseng di Hotel Grand Legi

Iseng iseng yang berbuah kebasahan, itulah cerita kita di pertengahan Oktober kemarin. Kisah ini berawal ketika kita (saya dan istri cantik saya) mati gaya gegara bingung mau jalan jalan kemana, bukan karena kehabisa tujuan sih, tapi gegara waktunya yang gak Oke, waktunya nanggung buat jalan jalan asoy ke pantai/air terjun. Tapi kemudian ide itu muncul seketika setelah saya melihat celana kolor ngegantung di balik pintu, "Ahaaa gimana kalau kita maen basah basahan aja di kolam renang hotel terdekat?" saya tanya pada perempuan cantik di sebelah saya. Gayung pun bersambut, dia mengangguk mau, mau mau malu gitu, hihihihi. Dan dari sekian banyak pilihan hotel di deket rumah, pilihan jatuh pada Hotel Grand Legi, horee selamat buat Grand Legi.....

PACKING
Packing atau berkemas adalah hal yang wajib dilakukan sebelum renang, ya khan gak mungkin donk, kita tiba tiba langsung cuss berangkat renang gitu aja, bisa bisa pulang pulang cuma koloran doang. Barang yang kudu alias wajib 'ain dibawa yaitu celana kolor, handuk, duit, dan tentunya Kamera, nah ini barang barang khusus cowok ya, kalau cewek ya bisa lebih ribet lagi, misalnya aja seperangkat alat make up dan seperangkat alat daleman atas bawah :p

Berhubung Hotel Grand Legi ini gak jauh dari rumah, ya jadinya 10 menit aja nyampai, kalau di peta sih jaraknya paling cuma 1 centimeter, tapi kalau jalan kaki capek juga sih, bisa bisa belum sampai kolamnya udah basah duluan (basah keringet)

Kolam renang di Grand Legi ini memang terbuka untuk umum, gak cuma buat yang nginep di hotel aja, jadi dari parkiran langsung aja cuss ke kolamnya, trus tinggal cari deh berugak2 yang masih kosong buat naruh barang barang kita.

Biaya renang disini lumayan mahal juga sih, 50 ribu per orang, yaa maklum lah namanya juga di hotel, tapi itu dah termasuk Orange Juice super segerr yang dikasih pas kita dateng.


Meskipun Kolamnya gak terlalu luas ya, tapi udah dibagi dua yaitu yang dangkal dan yang dalam, bentuknya pun gak kotak kaya di kolam renang umum. Kurang enaknya renang di kolam renang hotel tuh gak ada tempat buat terjun terjunan... hihihi padahal pengen nih loncat dari ketinggian gitu. Tapi positifnya di sini suasananya tenang, bisa renang dengan nyaman, dan asoy.

LAPAR... adalah rasa yang pasti muncul setelah kita renang, meskipun itu cuma renang renag hore alias maen aer. Tapi tenang, kita bisa kok pesen makanan disini, ada nasi goreng, kentang goreng dll, tapi ya itu harga nya harga hotel :P

Pemadam Kelaparan

Lihat gambar di atas.... Berhubung duit mepet alhasil kita cuma pesen kentang goreng dan es coklat, (+ orange juice gratisan) hihihihi...



jangan lupa follow twitter kita @lombokkita untuk all about Lombok
LOMBOK itu INDAH
Share:

29 November 2014

Dibuka oleh Serabi dan Ditutup oleh Warung Kelor Pancor

foto dr gugel, gegara gak sempet fotoin
Minggu kemarin (pertengahan November 2014) seperti minggu minggu sebelumnya, saya dan keluarga (istri, adik, sepupu, sepupu lagi, dan adik lagi) pagi pagi buta udah meluncur menuju Tanjung Teros Lombok Timur dalam keadaan perut kosong melompong, bukan wisata bukan jalan jalan, tapi kita mau nyekar ke makam ibu mertua (mamanya istri).

Karena berangkatnya lumayan pagi, jadi gak sampai dua jam kita dah sampai di wilayah Tanjung, Labuhan Haji, Lotim. Nah biar sekali dayung dua pulau terlampaui, kita pun mampir dulu ke Pasar Tanjung, untuk berburu Serabi Santan, serabi ini memang paling enak dimakan kalau lagi panas panasnya, bagian bawah agak keras berkerak, sedangkan bagian atasnya masih lembek gitu, dan berasap, gegara baru keuar dari tempat masaknya.... aihhhh "Maiq Gati" kalau orang sasak bilang, yang artinya "Uenaaak Tenan". Udah enak, murah pula, sebiji cuma 500 rupiah :)

Urusan perut dah beres, saatnya kita menuju Pemakaman Keluarga Bidara Nanot, yang lokasinya gak terlalu jauh dari Pasar Tanjung. By the way di wilayah ini kayaknya memang gak pernah ujan lagi deh, tanah kuburan ini kering banget, cenderung gembur gitu, kena angin dikit, debunya kemana mana, dan pohon pohon pun seakan akan kering kehausan.

Setelah selesai urusan nyekar nya, hari udah mulai siang, perut udah mulai kosong lagi, apalagi jarak antara parkir mobil dan kuburan ini agak jauh, hohohoho. Lapar pun menyerang, waaah kita butuh Pemadam Kelaparan nih.

Dari sekian banyak pilihan tempat kuliner di Lombok Timur, pilihan jatuh pada Warung Kelor yang ada di Jln KH Ahmad Dahlan, Pancor, Lotim, selain udah terkenal maknyus kebetulan juga lokasi warungnya ada di jalan arah pulang.

Welcome to Warung Kelor Pancor

Dari depan, warung ini biasa aja, seperti halnya warung warung makan yang lain, tulisan besar "Warung Kelor" yang ada di bagian depan warung,mengisyaratkan bahwa menu utama di warung ini memang Sayur Kelor :) By the way, saya sih udah beberapa kali nyoba sayur kelor yang ada di Sekitaran Mataram, dan beberapa kali juga masak sendiri, satu hal yang membuat saya ketagihan sayur kelor ini adalah wangi alami dari daunnya ini saat sudah direbus, hmmmm menggugah selera, padahal cuma ditambahin garam doang.

silakan dipilih lauk nya :)

Beda dengan yang ada di Mataram, di sini lauk nya lebih banyak jenisnya, ada ayam goreng, udang, cumi, gurame, tempe, bakwan dan sate jeroan. Nah tinggal pilih dah mau pakai lauk yang mana aja. Oia satu lagi, satu hal yang paling penting dalam sajian kuliner lombok, yaitu Sambal super pedesnya, wiiiii dijamin bikin menggelinjang keringetan.



HARGA
Mengenai harga, saya kurang tahu untuk per item harganya berapa, pokoknya kita makan super puas berenam plus minum teh botolan itu habis sekitar 180 ribuan, bila dibagi 6 jadinya per orang habis 30 ribu rupiah, yaaa cukup terjangkau untuk sajian sebanyak ini. Jadi buat kalian yang lagi jalan jalan ke daerah Pancor, Lotim jangan lupa ya mampir ke Warung Kelor ini, dijamin PUASS...!!!




jangan lupa follow twitter kita @lombokkita untuk all about Lombok
LOMBOK itu INDAH
Share:

My Youtube Channel

Blog Archive