28 July 2018

Menikmati Sore di Filosofi Kopi Jogja

Siapa sih yang gak tahu ama Filosofi Kopi? Novel yang sukses difilm kan ini, cukup mendapat tempat di hati para pemuda penikmat kopi, yang kesan nya melekat bahkan sampai sekarang, padahal udah lumayan lama lho film nya. Hal ini tak terlepas dari cafenya yang benar benar beroperasi di dunia nyata setelah selesai dipakai syuting film.

Salah satu cafe nya ada di daerah Jogja, tepatnya di Jalan Pandawa, Ngaglik, Sleman, Jogja. Kira kira sih 8 km arah utara dari Tugu Jogja, sebenernya sih enggak terlalu jauh ya, cuma karena jalurnya macet (kalau dari pusat jogja) jadinya butuh waktu yang lumayan lama untuk sampai lokasi itu, apalagi pas libur panjang lebaran gini. Untuk lebih tepatnya silakan lihat peta di bawah postingan.

Bertempat di pelosok Sleman, kedai kopi ini menawarkan suasana pedesaan yang khas dengan banyak pepohonan dan bangunan rumah joglo dari kayu, sangat  berbeda dengan kedai kopi kebanyakan yang berada di pusat keramaian kota. Meskipun begitu, barista dan peralatan kopi nya terlihat modern, dengan open bar di dalam joglo yang dapat terlihat baik dari area outdoor maupun dalam joglo

Kedai kopi ini terletak di jalan buntu menuju kuburan, bila kita berdiri di depan kedainya, kita akan melihat dengan jelas gerbang kuburan di ujung jalan, heuheuheuheu, tapi tenang aja, nongkrong sore di kedai kopi ini terasa sangat syahdu, karena menghadap ke arah barat, jadi bisa sambil menikmati senja, dimana matahari terlihat malu malu terbenam di balik pepohonan.




Untuk urusan pemesanan menu minuman/makanan, aku kemarin harus antre dulu, berdiri mengular di depan kasir, untungnya sih di sini pada tertib semua, enggak ada emak emak yang suka nyerobot antrean kayak di kasir Indomaret, heuheuheu.

Daftar menu ditampilkan di samping kasir, bukan di buku menu, tapi di kaca dengan tinta putih, jadi saat ngantre kita bisa sambil baca baca menu dari kejauhan, nah pas sampai di kasirnya , kita bisa langsung nyebutin pesenan kita, lalu bayar, dan nunggu dipanggil nama kita. Tidak ada pelayan yang mengantar orderan ke meja kita, jadi kuping kita harus selalu siap siaga mendengar panggilan nama kita dari pengeras suara. 


Saat kita kesini, ada dua jenis biji kopi, yaitu tiwus dan lestari. Karena sudah mupeng ama kopi tiwus sejak saat nonton film nya, kita pun pesan kopi tiwus, satu yang V60, satunya yang tubruk, plus satu lagi pesan red velvet. Untuk cemilan nya kita pesan pastry aja, karena lagi gak buka orderan goreng gorengan seperti Kentang Goreng. Hal ini dikarenakan orderan kentang goreng sudah menumpuk banyak, perkiraannya tamu harus menunggu 1 jam lagi untuk bisa mendapatkan kentang goreng, jadinya sementara close order.



Sarankuku sih, jangan menunda nunda untuk pesan makanan ya, jadi meskipun kita udah order minuman, kalao mau nambah makanan, kita gak bisa langsung nambah gitu aja, harus antre lagi dari nol. Kecuali sih kalau kondisi kedai lagi sepi yaaa...

Yang jelas, kedai kopi ini recommended dah... Worth it kok jauh jauh mblusuk untuk ngopi disini.

***

Peta Lokasi Filosofi Kopi Jogja

.
Share:

23 July 2018

Kebun Bunga Matahari Hits di Pantai Glagah


Kebun Bunga Matahari memang selalu menjadi daya tarik para penggemar foto foto. Baru baru ini, pantai selatan jawa tengah dan sekitarnya lagi banyak bermunculan kebun bunga matahari nih, yang kutahu ada di Pantai Ambal Kebumen, Pantai Jetis Purworejo dan Pantai Glagah Kulonprogo.

Nah berhubung pantai glagah lah yang paling dekat dari rumah, mampirlah kita kesana, mumpung lagi libur juga.

By the way, Pantai Glagah ini terletak di sebelah timur Pantai Jatimalang dan Pantai Congot, enggak jauh dari perbatasan Provinsi Jateng - DIY. Sebelum terkenal pantai jatimalang, pantai glagah dan congot inilah primadona bagi warga purworejo untuk berwisata pantai, aku inget banget itu waktu masih kecil, seumuran TK atau SD gitu lah.


Untuk bisa sampai ke kebun bunga ini gampang banget, masuklah lewat TPR (Tempat Pemungutan Retribusi) Timur Pantai Glagah, untuk lebih jelasnya lihat peta di bawah postingan ya. Nah di TPR ini kita harus membayar tiket 5000/orang. Masuk aja, sekitar 300 meter kita akan menemui beberapa kebun bunga matahari, yuph bukan cuma 1, di sekitar pantai glagah ini ada beberapa kebun bunga matahari yang masing masing dikelola oleh orang yang berbeda. Saranku sih jangan langsung masuk ke kebun yang terdekat, lurus aja terus, pilih pilih kebun mana yang bunganya paling lebat, biar makin bagus foto nya.


Nah di kebun bunga ini, kita harus membayar lagi uang 5000/orang untuk biaya perawatan bunga. Selain itu, kalau kita mau nanam sendiri di rumah, di sini juga ada yang menjual benih nya lho, tapi aku enggak tahu harganya, enggak nanya. 

Untuk mendapatkan foto bunga yang cantik memang keberuntungan sih, kalau pas lagi mekar semua, ya pasti dapat yang bagus. Sayangnya kemarin pas kesana, udah banyak yang kering, sedangkan yang masih berbunga hanya sedikit, kurang lebat. Untungnya masih ada bunga bunga yang lain, yaitu bunga kertas , kenikir dan bunga jengger merah dan kuning.

Di sini kita bisa bebas berfoto foto, dari dekat maupun dari jauh, asalkan jangan sampai merusak bunga nya ya. 



Oia, saat berkendara menuju pantai glagah, di sebelah barat akan terlihat pagar besi berkawat dengan tanah lapang yang luas di dalam nya, nah itu merupakan tanah untuk proyek pembangunan Bandara Jogja yang baru, heuheuheu pas banget di sebelah barat kebun bunga ini.



***

Peta Lokasi Kebun Bunga Matahari, Pantai Glagah

.
Share:

18 July 2018

Main Perosotan di Air Terjun Tibu Tereng, Lombok

Awal cerita kita punya rencana ke Air Terjun Tibu Tereng adalah saat menengok rekan kerja yang istrinya baru saja melahirkan. Rumahnya tuh berada di daerah Mekar Sari, Gunungsari, Lombok Barat. Nah dia cerita kalau di atas desa ini ada tempat pemandian dan air terjun yang bagus, cantik dan dingin. Heuheuheu, tertariklah kita kita ini donk ya ama air terjun itu....

Akhirnya di weekend berikutnya, kita pun menyambangi air terjun ini. Lokasi Tibu Tereng ini berada di daerah Batu Kemaliq, Bukittinggi, Gunungsari, Lombok Barat, enggak terlalu jauh sih dari Kota Mataram, kira kira cuma 14,5 km. Untuk menuju kesana sih sebaiknya menggunakan kendaraan roda dua aja deh, karena kalau menggunakan roda 4, terlalu jauh jalan kaki nya.


Rute Menuju Tibu Tereng

Dengan titik start di ex Bandara Selaparang, kita menuju ke arah timur melewati Jalan Jend Sudirman, nah di perempatan Kekeri - Sayang Sayang kita belok ke kiri/arah utara. Ikuti aja jalan ini terus sampai ke Pasar Bukittinggi, kalau bingung, tanya aja ke warga setempat dimana pasar bukittinggi, pasti tau deh. Jalan menuju pasar ini udah bagus, aspal yang bisa dilewati kendaraan roda 4. Tapi jalur setelah pasar bukittinggi adalah jalan tanah sempit dimana sebelah kanan adalah jurang, aku sarankan sih naik motor saja, karena kalau naik mobil, lumayan jauh jalan kaki dari pasar bukittinggi. Ikuti saja jalan kecil ini sampai ketemu parkiran sepeda motor.

Parkirannya sudah bagus, dengan lantai cor semen, ada beberapa tempat duduk dan berugak yang bisa dimanfaatkan untuk beristirahat, selain itu juga ada warung yang menjual jajanan dan minuman botolan. Nah dari parkiran ini kita tinggal jalan kaki aja turun mengikuti jalan setapak yang ada. Nah pas saat kita kesini, enggak ada tukang parkir ataupun petugas penjaga. Jadi kita menitipkan ke pemilik warung saja, dengan bilang langsung. 

Di bawah warung ini jalan setapak bercabang dua, kalau ke kanan akan menuju Air Terjun Kelambu (nanti akan diulas di postingan tersendiri), sedangkan kalau ke kiri ke Tibu Tereng. By the way di sekitar sini banyak banget pohon durian lho, tapi sayang sekali sekarang ini bukan musim nya, coba pas musim durian ya, heuheuheu, bisa sekalian berburu durian nih.

Dari pertigaan ini tinggal jalan kaki menurun sekitar 5 menit saja, hingga sampai sungai dan lanjut ke arah kanan dikit, yuhuuu dan sampailah kita di Tibu Tereng.



Air Terjun di sini tidak tinggi sih, cuman seru untuk main main air, lompat lompat dan perosotan...  Berhubung ini lagi musim kemarau, aliran airnya enggak deras dan cuma ada satu, kulihat sih di pojokan yang satunya ada jalur air terjun juga, yang mengering, mungkin pas musim penghujan ada alirannya.

Di bawah terjunan air ini ada kolam yang di bagian tengah lumayan dalam, apalagi pas musim penghujan, pasti lebih dalam lagi, tapi justru aman sih kalau buat lompat lompat, kaki enggak nabrak dasar, tapi ya itu harus dipastikan bisa berenang.

Di sini kita bisa perosotan seru lho, meskipun track nya pendek banget, tapi wokee lah buat seru seruan bareng temen temen...


Setelah puas main main air, berendem dan perosotan. Kita pun melanjutkan ke spot ke dua, yaitu Air Terjun Kelambu. Lokasi air terjun ini berada beberapa ratus meter di bawah Tibu Tereng ini. Kita jalan kaki naik ke pertigaan jalur awal (di bawah warung), lanjut turun ke air terjun nya.

Nah seperti apa serunya main air di air terjun kelambu? Tunggu saja postingan berikutnya ya :)
Share:

13 July 2018

Nongkrong di Mobil Rongsokan Junkyard Autopark


Wisata di Magelang memang enggak bisa lepas dari Candi Borobudur, candi itu sudah mendunia. Nah bila kalian lagi jalan jalan ke Magelang, khususnya ke daerah Borobudur, bisa dah mampir foto foto selfie sambil nongkrong makan di Junkyard Autopark & Cafe.

Lokasi persisnya di Desa Wanurejo, Borobudur, Magelang. Sekitar 2 kilometer sebelah timur Candi Borobudur, gampang banget kok ditemuin, tinggal search aja di google. Jalan sudah mulus beraspal sampai lokasi, bisa dicapai dengan kendaraan roda 2 maupun roda 4. Kalau lagi males bawa kendaraan sendiri, pakai aja jasa angkutan online (Grab) ataupun taksi taksi lokal non aplikasi.



Sesuai dengan namanya ``Junkyard``, tempat ini memang berupa sebuah halaman yang berisi sampah rongsokan. Tapi karena ditata dengan apik, jadi tempat yang wokeeeee buat fotoan. Buka mulai jam 8 pagi sampai gelap, dengan tiket seharga 20ribu/orang.

Tidak sembarang sampah ya, di sini yang dipajang berbagai macam kendaraan klasik baik itu roda 2 , roda 3 maupun roda 4, dimana sebagian sepertinya sih masih bisa dinyalakan mesinnya, sedangkan yang lain bener bener rongsokan, berupa potongan potongan mobil, dan aksesorisnya, bahkan di bagian tengah ada body mobil jadul yang jadi spot air mancur.



Infonya, saat ini (Juni 2018) ada sekitar 14 mobil klasik di taman ini, ada dua mobil yang tertua yakni jenis Impala buatan tahun 1964 dan Dogde tahun 1957. Obyek wisata instagramable ini berdiri di tanah bengkok seluas 2.000 meter persegi milik Kepala Desa Wanurejo, dengan sistem bagi hasil pendapatan, yaitu 50 persen pengelola, 40 persen kepala desa dan 10 persen untuk BUMDes Wanurejo.



Oia saat di loket pembelian tiket khan aku sambil nenteng botol aqua, nah oleh petugas penjaganya, dilarang dibawa masuk, karena di dalam ada cafe nya. Yaudah akhirnya kutelan semua tuh air sebotol, heuheuheu, lalu kubuang botolnya...

Walaupun udah menabung sebotol air mineral di perut, ternyata sehabis fotoan, haus juga, maklum siang ini panasss banget, kurang pagi sih kita datengnya, kalau misal dateng jam 8 pagi, pas banget tuh... Akhirnya kita jajan juga deh di cafenya, sekalian ngemil ngemil hore


Di sebelah Junkyard ini ada tempat bernama Balkondes Wanurejo, yang isinya berupa gazebo gazebo dan bangunan beratap joglo. Tempat ini bisa dimanfaatkan pengunjung secara gratis, untuk duduk bersantai sambil istirahat. Bisa juga digunakan untuk acara formal seperti acara nikahan atau reunian, nah kalau yang ini sepertinya sih bayar ya.



Balkondes ini adalah singkatan dari Balai Ekonomi Desa. Di magelang ini ada beberapa balkondes di beberapa desa yang masing masing bekerjasama dengan BUMN, seperti bank bank dan Telkom, nah yang di Wanurejo ini bekerjasama dengan Bank BNI. Bagus juga sih ini konsepnya, memberdayakan tanah bengkok yang gersang ini menajdi tanah yang bisa meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar.

***

Peta Lokasi Junkyard Autopark / Balkondes Wanurejo

.

Share:

8 July 2018

Jalan Jalan Siang ke Keraton Jogja

Saat mudik kemarin, aku menyempatkan untuk jalan jalan ke Jogja dua hari satu malam, dengan menginap di salah satu hotel dekat Ambarrukmo Plaza. Kali ini sih tujuannya cuma wisata belanja, kuliner dan foto foto di area kota kota saja, enggak sampai jauh jauh ke Gunungkidul.


Nah salah satu tempat yang kita kunjungi adalah Keraton Jogja yang berada di sebelah selatan Malioboro. Karena ini lagi libur lebaran, sehingga dipastikan macet dan susah cari parkiran, kita menggunakan jasa angkutan online saja, gampang tinggal klik klik di hape, duduk di mobil, disetirin, nyampai deh di lokasi. Heuheuheu.

Wisata keraton ternyata masih banyak diminati wisatawan ya, terbukti loket tiket masuk nya dipenuhi antrean lumayan panjang. Untuk harga tiketnya murah, cuma 5ribu/orang plus 2ribu jika kita membawa kamera profesional.

Di pintu masuk, akan ada bapak bapak berbaju batik seragam yang menawarkan jasa guide selama mengelilingi keraton, dengan menyewa jasa tersebut, kita akan dijelaskan setiap detail di keraton ini, tentang cerita dan asal usulnya. Namun karena kita cuma mau foto foto aja , jadinya enggak pakai jasa itu.

By the way, Keraton Jogja ini berada di tengah-tengah Jogja lho, dimana ketika di ambil garis lurus antara Gunung Merapi dan Laut Selatan, maka Keraton menjadi pusat dari keduanya. Keraton atau Kraton Jogja merupakan kerajaan terakhir dari semua kerajaan yang pernah berjaya di tanah jawa. Ketika kerajaan hindu-budha berakhir kemudian di teruskan dengan kerajaan islam pertama di Demak, lalu berdiri kerajaan yang lain seperti Mataram islam yang di dirikan oleh Sultan Agung lalu berjalan dan muncul Keraton Jogja yang didirikan oleh Sultan Hamengku Bowono I. Hingga sekarang, keraton Jogja masih menyimpan kebudayaan yang sangat mengagumkan.

Kompleks Keraton Jogja terbagi menjadi dua bagian, yakni bagian yang boleh dikunjungi wisatawan serta bagian yang tertutup karena menjadi pusat kegiatan keluarga kerajaan. Beberapa bagian yang tidak boleh dimasuki oleh pengunjung antara lain Gedhong Jene (tempat untuk menyambut tamu kerajaan), Gedhong Purworetno (ruang kerja Sultan sebagai Raja Yogyakarta), Bangsal Kencana, Bangsal Trajumas, serta Kaputren. Nah untuk bagian yang bisa dikunjungi, ini nih beberapa foto nya






Sebenernya masih banyak bagian keraton yang bisa dikunjungi, dan ada pula pertunjukan seni yang bisa dinikmati, tapi karena sudah kesiangan, panas banget, akhirnya kita memutuskan untuk keluar , dan nyari minuman yang seger seger, heuheuheu. Di bagian luar keraton banyak yang menjajakan berbagai makanan dan minuman, serta oleh oleh khas keraton, seperti kaos, blangkon, kerajinan dll.

Nah buat kalian yang lagi jalan jalan di jogja dan pengen mengetahui sejarah jogja jaman dulu, monggo mampir ke keraton jogja....

***

Peta Lokasi Keraton Jogja

.
Share:

My Youtube Channel

Blog Archive